Pencarian

PTPN I Olah Limbah Sawit Jadi Helm hingga Rompi Antipeluru

Rabu, 07 Oktober 2026 • 08:34:01 WIB
PTPN I Olah Limbah Sawit Jadi Helm hingga Rompi Antipeluru
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras menyampaikan kolaborasi riset dengan IPB University dalam pengolahan limbah sawit menjadi produk bernilai tambah.

SULAWESI BARAT — PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) Regional 2 memfasilitasi riset IPB University yang mengubah tandan kosong kelapa sawit menjadi helm, sepatu, hingga rompi antipeluru berbahan green composite. Kolaborasi yang berjalan sejak 2015 ini menjadi contoh hilirisasi limbah pabrik sawit menjadi produk industri bernilai tambah.

Paragraf pembuka: Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras menyebut kolaborasi dengan IPB University sebagai bagian dari upaya perusahaan mendorong hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium. Menurut dia, kerja sama ini sejalan dengan agenda hilirisasi dan ekonomi sirkular yang tengah didorong perusahaan-perusahaan perkebunan negara.

Dari Limbah Pabrik ke Material Komposit

Dosen sekaligus peneliti IPB University, Siti Nikmatin, menuturkan sinergi bermula dari banyaknya tandan kosong kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal. Lewat serangkaian uji laboratorium, ia menemukan formula yang tepat untuk mengolah serat tandan kosong menjadi material komposit.

Penelitian berlangsung sejak 2015 di Laboratorium Fisika Fakultas MIPA IPB University dan Pusat Studi Sawit IPB. Bahan baku berasal dari limbah pabrik milik PTPN I (Persero) Regional 2, eks PTPN VIII, di Cikasungka, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hasil riset itu kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk biomaterial, mulai dari helm, sepatu, sandal, pakaian, hingga rompi antipeluru. Semuanya berbahan dasar green composite dari limbah pabrik kelapa sawit.

Sudah Kantongi SNI dan Sertifikat Dislitbang AD

Produk helm sawit yang dihasilkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Material antipeluru kaliber 9 x 19 mm juga sudah memiliki sertifikat dari Dislitbang AD pada 2025.

Siti menegaskan produk-produk tersebut dikembangkan dengan pendekatan ramah lingkungan karena berasal dari bahan nabati. Harganya pun diklaim lebih murah dibanding komposit sejenis di pasaran.

"Sebagai gambaran, helm untuk pembalap profesional menggunakan material komposit dan harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Sementara produk kami dengan spesifikasi yang setara bisa memiliki harga sekitar setengahnya," ujarnya.

Produksi Masih Berbasis Pesanan

IPB menggandeng startup PT Material Data Space (MDS) dan PT Interstisi Material Maju (IMM) sebagai entitas operasional untuk memenuhi syarat produksi. Keduanya telah memproduksi ribuan safety helmet dan produk fesyen pesanan PTPN.

Meski belum berjalan kontinu, Siti memastikan pihaknya siap menerima pesanan dalam skala besar. "Kami sudah bisa memproduksi berbagai produk dalam skala besar, tetapi memang belum kontinu. Sifatnya masih berdasarkan PO (purchase order)," jelasnya.

Rompi antipeluru yang memenuhi standar Polri, kata dia, juga sudah diproduksi dalam skala terbatas. Ia berharap pemerintah memberi dukungan agar hasil riset ini berkembang menjadi industri yang bermanfaat luas bagi masyarakat.

Skema Bagi Hasil Berupa Produk

Model kerja sama yang dikembangkan tidak berorientasi pada keuntungan. PTPN I (Persero) Regional 2 membiayai pengembangan dan produksi berbagai produk yang dibutuhkan perusahaan, dengan imbal hasil berupa produk.

"Kami ingin membangun ekosistem kolaborasi yang menghubungkan riset, industri dan kebutuhan pasar. Ketika inovasi mampu menghasilkan produk yang kompetitif, ramah lingkungan dan memberikan manfaat lebih luas, maka di situlah nilai strategis sebuah kolaborasi benar-benar hadir," kata Abdul Rivai Ras.

Penutup: Bagi PTPN I, langkah ini menjadi cara memutar balik limbah pabrik menjadi lini produk baru yang bernilai jual. Tantangannya tinggal satu: mengubah produksi berbasis pesanan menjadi industri yang berjalan berkelanjutan.

Follow www.radarmamuju.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks