BPBD Sulbar Koordinasikan Penanganan Kekeringan di Pasangkayu, 42.200 Jiwa di 17 Desa Terdampak

Penulis: Yanto Prasetya  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:02:01 WIB
BPBD Sulbar berkoordinasi dengan Pemkab Pasangkayu untuk menangani dampak kekeringan yang melanda 17 desa dan kelurahan.

MAMUJU — Informasi yang masuk ke Pusdalops BPBD Sulbar itu tertuang dalam surat BPBD Kabupaten Pasangkayu Nomor 800.1/112/X/BPBD/2026 tentang Tanggapan dan Klarifikasi Terkait Isu Sumur Warga Pasangkayu Mengering, tertanggal 7 Oktober 2026. Surat tersebut sekaligus mengklarifikasi isu yang beredar di tengah warga soal kondisi sumur di wilayah itu.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Barat Muhammad Yasir Fattah menyatakan pihaknya akan memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasangkayu. Langkah itu diambil untuk memastikan kondisi terkini masyarakat terdampak dan kebutuhan penanganan air bersih di lapangan.

Yasir menyebut arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat Junda Maulana menekankan pemenuhan kebutuhan dasar warga. Penanganan juga diminta cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.

El Niño Kuras Cadangan Air Tanah

Hasil asesmen BPBD Kabupaten Pasangkayu menunjukkan sebagian besar sumur warga kering akibat dampak fenomena El Niño. Curah hujan yang sangat rendah dalam waktu panjang membuat cadangan air dalam tanah menipis.

Di sejumlah lokasi, air yang masih tersisa di sumur dilaporkan keruh dengan debit sangat terbatas. Kondisi itu menyulitkan warga memenuhi kebutuhan harian seperti minum, memasak, mandi, dan mencuci.

Sebagian warga terpaksa membeli air bersih sehingga pengeluaran rumah tangga bertambah. Kekeringan ini juga berpotensi menurunkan kualitas hidup dan berdampak pada kesehatan warga.

17 Desa dan Kelurahan Teridentifikasi Terdampak

Data lokasi yang telah teridentifikasi mencakup 17 desa dan kelurahan di Kabupaten Pasangkayu. Wilayah tersebut meliputi Desa Kumasari, Desa Polewali, Desa Patika, Kelurahan Pasangkayu, Desa Saptanajaya, Desa Tampaure, Desa Bulu Parigi, Desa Pangiang, Desa Bambaira, Kelurahan Martajaya, Desa Ako, Desa Towoni, Desa Bulu Mario, Desa Karya Bersama, Desa Sarude, Desa Motu, dan Desa Sarudu.

Sejumlah lokasi dilaporkan belum tertangani, sementara sebagian lainnya belum tertangani secara menyeluruh. BPBD Kabupaten Pasangkayu mencatat potensi kelangkaan air bersih bisa meluas ke 12 kecamatan, 59 desa, dan 4 kelurahan.

Daftar Kebutuhan Mendesak di Lapangan

Untuk mendukung operasional penanganan kekeringan, BPBD Kabupaten Pasangkayu menyampaikan sejumlah kebutuhan mendesak. Kebutuhan itu diprioritaskan bagi penanganan dampak El Niño di lapangan.

  • 5 unit mesin Alkon untuk mendukung distribusi air ke masyarakat;
  • 5 unit tandon air berkapasitas 1.200 liter sebagai penampungan air bersih;
  • Selang air fleksibel berdiameter besar sepanjang 60 meter untuk memperluas jangkauan distribusi ke rumah warga;
  • 20 unit mesin bor sumur dalam untuk penyediaan sumber air bersih;
  • 10 unit pompa air pertanian bagi kebutuhan air petani sawah; dan
  • 5 unit genset sebagai peralatan cadangan saat terjadi pemadaman listrik.

"Informasi ini menjadi perhatian kita bersama. BPBD Sulawesi Barat akan memastikan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasangkayu berjalan dengan baik, terutama untuk mengetahui kebutuhan riil masyarakat di setiap lokasi terdampak," kata Yasir Fattah.

BPBD Sulbar menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi melalui Pusdalops. Koordinasi dengan BPBD Kabupaten Pasangkayu dan pemerintah daerah setempat juga diperkuat menyusul laporan tersebut.

Reporter: Yanto Prasetya
Sumber: rakyatsulbar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top