SULAWESI BARAT — Joey Pelupessy meninggalkan Jakarta hanya beberapa jam setelah Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 lewat adu penalti 4-2 atas Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026). Gelandang jangkar berusia 33 tahun itu harus segera terbang ke Belgia demi memperkuat Lommel SK di lanjutan Jupiler Pro League.
Gelar juara belum sepenuhnya dinikmati Pelupessy. Ia mengaku hanya sempat mengangkat trofi sebentar, merayakannya singkat di ruang ganti, lalu bergegas menuju bandara. Sementara rekan-rekannya melanjutkan pesta ke pusat kota Jakarta, ia memilih jalur berbeda.
Lommel SK dijadwalkan menghadapi Waasland-Beveren pada pekan ke-8 Jupiler Pro League di Freethiel Stadion, Sabtu (10/10/2026) dini hari WIB. Klub asal Belgia itu butuh tambahan poin setelah gagal menang dalam tiga laga terakhir di Liga Belgia.
Pelupessy hanya punya waktu lima hari untuk memulihkan kondisi, termasuk menempuh perjalanan udara panjang dari Jakarta. Situasi itu memaksanya mengambil keputusan cepat begitu wasit meniup peluit akhir.
Dalam wawancara dengan media Belanda Tubantia, Pelupessy menceritakan pilihan yang harus ia ambil di tengah euforia juara.
"Teman-teman yang lain pergi ke pusat kota Jakarta untuk bersenang-senang. Saya sebenarnya ingin sekali ikut, tetapi hanya saya dan Kevin Diks yang harus segera pergi. Saya sempat mengangkat trofi sebentar, merayakannya secara singkat di ruang ganti, lalu kami langsung menuju bandara," ujar Joey Pelupessy.
Kevin Diks berada dalam situasi serupa. Keduanya sama-sama terikat jadwal klub Eropa yang tidak bisa ditunda, sehingga harus meninggalkan perayaan lebih awal.
Pelupessy bukan sekadar pelengkap skuad Garuda. Bersama Kevin Diks dan Elkan Baggott, ia mencatat menit bermain penuh di sepanjang FIFA ASEAN Cup 2026.
Ketiganya selalu menjadi starter dan tidak sekali pun digantikan dalam empat laga, sejak fase grup hingga final. Konsistensi itu membuat lini tengah Indonesia tetap stabil menghadapi tekanan Thailand sampai adu penalti.
Usai memastikan gelar, mantan pemain Groningen itu menuturkan kesan yang ia bawa pulang dari Indonesia.
"Rasanya luar biasa, sungguh menyenangkan. Saat saya berangkat ke sini empat belas hari yang lalu, saya tidak tahu apa yang harus diharapkan, tetapi begitu tiba, saya langsung sadar bahwa ini adalah peristiwa yang sangat besar," tutur Pelupessy.
"Spanduk FIFA ada di mana-mana. Saya peka terhadap detail-detail seperti itu. Presiden Indonesia hadir di laga final, Presiden FIFA Infantino juga ada di sana, serta mantan pemain sepak bola papan atas seperti Berbatov dan Pedro datang membawa trofi ke stadion. Ketika tokoh-tokoh seperti itu hadir, Anda tahu bahwa ini adalah hal yang nyata," pungkasnya.
Perjalanan Pelupessy bersama Timnas Indonesia berakhir dengan trofi, tetapi tugas berikutnya sudah menunggu di Belgia. Lommel SK memerlukan kontribusinya untuk keluar dari tren buruk di Jupiler Pro League.
Bagi pemain berusia 33 tahun itu, pengorbanan meninggalkan pesta juara di Jakarta adalah harga yang harus dibayar untuk tetap menjaga posisinya di klub. Selebrasi bisa ditunda, jadwal liga tidak.