SULAWESI BARAT — Jawa Timur selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung industri nasional. Kebutuhan energinya besar, dan sumber gas yang dekat dengan pabrik-pabrik menjadi komoditas yang tak ternilai. Pertamina pun tak mau berpangku tangan. Melalui PGN Saka, mereka menggarap Wilayah Kerja Pangkah di Gresik dengan dua strategi sekaligus: mengoptimalkan fasilitas yang ada dan memburu cadangan baru.
Hasilnya mulai terlihat. Pada Maret 2026, SIPL, anak usaha PGN Saka, merampungkan pengeboran sumur pengembangan UPA-17ST di Lapangan Ujung Pangkah. Uji alir awal menunjukkan angka yang melampaui target: 2.443 barel minyak per hari (BOPD) dan 3,72 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) sebagai gas ikutan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa aset migas yang sudah berproduksi pun masih bisa "diperas" lagi nilainya.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menegaskan bahwa kedekatan sumber gas dengan pusat industri adalah keunggulan yang harus dioptimalkan. Semakin pendek rantai pasok, semakin efisien biaya dan semakin andal pasokannya. "Jawa Timur memiliki basis industri yang sangat kuat. Karena itu, kontinuitas pasokan energi, khususnya gas bumi, perlu terus dijaga," ujar Oki saat meninjau Onshore Processing Facility (OPF) SIPL di Gresik, Jumat (7/8/2026).
"Kami berharap PGN Saka terus memperkuat kajian eksplorasi untuk menemukan cadangan gas baru," tambahnya. Oki juga menyoroti potensi besar hidrokarbon yang masih perlu diperdalam. Ia meminta agar kematangan proyek ditingkatkan, didorong menuju pengembangan, hingga akhirnya berproduksi dan menambah pasokan energi nasional.
Selain mencari sumber baru, Pertamina juga memaksimalkan infrastruktur yang sudah berdiri. Dalam kunjungan tersebut, jajaran manajemen meninjau langsung fasilitas OPF dan LPG Plant yang dimiliki SIPL. "Kami mendiskusikan bagaimana infrastruktur yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan semakin optimal. Ada berbagai fasilitas yang sangat baik, termasuk LPG Plant, yang kami harapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar bagi ketahanan energi Indonesia," jelas Oki.
Direktur Utama PGN Saka, Intan Fauzi, menambahkan bahwa optimalisasi dilakukan secara terintegrasi, baik di fasilitas darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore). "Kunjungan ini menjadi semangat bagi seluruh Perwira Saka untuk terus meningkatkan kinerja operasi serta memaksimalkan seluruh fasilitas yang kami miliki di Wilayah Pangkah," kata Intan. Dengan strategi ganda ini, Pangkah diharapkan tak hanya bertahan, tapi tumbuh menjadi pemasok energi yang semakin signifikan bagi denyut industri Jawa Timur.